DILEMA PEREMPUAN KEDUA #1

DILEMA PEREMPUAN KEDUA #1

cerbung : Dilema Perempuan Kedua
part 1
by Rihana Adaminata

“Pokoknya sampai kapan pun aku tidak mau menjadi perempuan kedua dalam kehidupan seorang laki-laki! Tidak mau dipoligami apalagi nikah sama duda!”Kata Adzkiya menegaskan prinsipnya pada Risma, sahabatnya.
“Itu namanya kau mendahului takdir, Kiya. Siapa tahu, kau memang diciptakan untuk menjadi perempuan kedua.”Ujar Risma tambah memanas-manasi.”Banyak lho orang yang termakan omongannya sendiri.”
Adzkiya merasa tersudut. Meski sebentar, ia sempat dirundung rasa takut. Tapi ia tetap memegang teguh pendiriannya.
“Pokoknya tidak boleh! Andoenmida! Aku akan berusaha lari dari takdir itu sampai titik usaha penghabisan!”Tukasnya dengan menirukan artis-artis dalam drama korea.
Risma manggut-manggut. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tawa melihat tingkah Adzkiya. Ia masih ingat, sebulan yang lalu Adzkiya selalu memojokkannya karena menjadi Korean Drama Lover. Tapi sejak seminggu yang lalu, setelah ia disuap dengan Drama Ghost, kini malah Adzkiya lebih pintar bahasa Korea dari Risma yang lebih dulu menjadi penggemar artis-artis Korea.
Risma masih penasaran dengan keputusan Adzkiya menolak lamaran beberapa laki-laki yang dari segi fisik dan materi, tak memiliki cacat sedikitpun. Mereka semua berparas rupawan. Senyum yang menawan dan kepribadian mereka pun lebih dari kata ‘baik’. Tapi tak ada satupun yang mampu meluluh-lantahkan hati Adzkiya.
Ada ratusan bahkan ribuan tanda tanya di kepala Risma saat mendengar alasan Adzkiya menolak semua laki-laki yang melamarnya. Ia menganggap hal itu tak seharusnya menjadi penghalang Adzkiya untuk menunaikan sunnah Rasulullah SAW. Tapi ia tahu, seperti apa pribadi seorang Adzkiya. Gadis keras kepala yang idealis, kritis dan terkadang sedikit ceroboh. Adzkiya tidak akan mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri.
“Jika memang kau tidak mau jadi perempuan kedua, lalu kenapa kau menolak Hafiz? Dia bukan duda. Tidak pernah menikah dan belum pernah melamar siapapun,”Tanya gadis berkacamata minus itu.
“Dia punya mantan pacar 5 orang. Kalau 5 orang, berarti aku adalah perempuan ke-enam dong! Ogah!”
“Itu masa lalunya, Kiya! Jika dia melamarmu, berarti dia sungguh-sungguh ingin menjadikanmu wanita pertama dalam hidupnya.”
“Hatiku tidak setulus itu, Ris. Untuk memaafkan masa lalu seseorang terasa sangat sulit. Bukan karena aku merasa sok suci, tapi karena aku takut mengambil resiko atas dosa-dosa yang pernah ia perbuat pada gadis-gadis itu. Bagaimana jika salah satu dari mereka masih merasa sakit hati pada Hafiz?”Tandas Adzkiya membungkam Risma.
Risma menghela nafas panjang seraya membetulkan letak kacamatanya. Ia tidak bisa menyalahkan kata-kata Adzkiya. Merasa tidak bisa menang berdebat dengan Adzkiya, Risma memilih menyelesaikan tugas kantor yang disodorkan Pak Camat tadi pagi. Sedangkan Adzkiya merapikan arsip-arsip lama yang tidak terpakai lalu dibawa ke gudang penyimpanan berkas.
***
“Kiya, aku dengar kau akan pindah ke Bandung? Kapan?”
“Iya, Ris. Kata ayah ada lowongan pekerjaan di kantor Pertamina. Kebetulan tempatnya dekat dengan rumah paman di sana. Insya Allah berangkatnya minggu depan.”
“Kenapa kau dikirim jauh-jauh ke Bandung? Kau sudah bekerja disini. Sebentar lagi, mungkin kita akan diangkat jadi PNS.”
“Entahlah, Ris. Mungkin ayahku sudah lelah mendengar komentar jelek tentang aku. Terlalu pemilihlah, perawan tua-lah, gadis tidak laku-lah. Mungkin karena hal itu, ayah ingin mendepakku dari Sumbawa. Supaya tidak menjadi omongan orang lagi.”
“O…Semoga kau mendapat jodoh di sana, Kiya. Jodoh seperti yang kauinginkan,”Ujar Risma dengan nada sedih.
Adzkiya tersenyum sembari mengaminkan ucapan Risma dalam hati.
“Seandainya kau bisa naik bis, aku akan mengajakmu kerja di sana, Ris. Tapi kau bilang, kau tidak mau jauh dari orang tua. Apa boleh buat.”
“Nanti kalau kau kembali bawakan oleh-oleh ya. Pemuda Sunda.”
“Lho, bukankah kau sudah dipinang Kak Rangginang? Kenapa minta Pemuda Sunda lagi? Mau bersuami dua kau?”
“Gila! Geuronggo anyira! Yagh, Kak Rangga itu sudah menikah. Ayah dan ibuku tidak setuju aku menikah sama dia.”
“Haduh, Situ Nurbahaya kisah cintamu, Ris. Aku turut prihatin atas nasibmu. Mungkin kita memang belum ditakdirkan bertemu jodoh untuk saat ini. Tapi kau tidak boleh sedih. Harus semangat. Fighting!”Seru Adzkiya menyemangati Risma sambil mengangkat genggaman tangannya. Ia tersenyum genit sambil mengedipkan kedua matanya.
“Dasar! Sok cantik lu!”
“Emang gue cantik! Masyalah buat loh!”
***
Tanpa menaruh rasa curiga, Adzkiya berangkat ke Bandung. Dengan tekad, ia akan mengumpulkan uang banyak kemudian pulang dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga kampungnya. Ia ingin membuat ayahnya bangga saat kembali ke kampung halamannya.
Di gerbang, Adzkiya disambut penuh hangat oleh Tante Anisa, istri pamannya. Setelah melepas rindu dengan sapaan penuh keramahan, mereka masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ia melihat bayi laki-laki tengah duduk menangis histeris di lantai. Tanpa berpikir panjang, gadis 27 tahun itu langsung mendekati lalu menggendong bayi tampan itu.
Hanya sebentar digendong Adzkiya, perlahan bayi itu tertidur pulas. Adzkiya tersenyum. Ia merasa senang telah mampu menenangkan bayi itu dalam buaiannya.
“Dede bayi ini namanya siapa, Paman?”
“Bilal.”
“O…Terus Teteh kemana? Kok Bilal ditinggal sendirian di ruang tamu?”
“Yuna ada di Bogor. Ini bukan anaknya Yuna,”jawab Tante Anisa.
“Lho, terus ini anak siapa kalau bukan anaknya Teteh?”
Pak Rahmat dan istrinya terdiam mendengar pertanyaan Adzkiya. Sejenak kemudian kedua suami istri itu saling bertukar pandang. Keduanya tersenyum. Senyuman mencurigakan. Senyuman penuh misteri.
***
“Ayah, Kiya mau pulang,”Pinta Adzkiya manja.
“Tidak boleh! Kau harus menuruti kata-kata pamanmu. Jika kau pulang sebelum menikah, Ayah tidak akan mengizinkanmu pulang ke rumah!”
“Tapi Ayah, Kiya tidak mau menikah dengan duda. Kiya tidak mau jadi Ibu Tiri. Kiya mau merawat Ayah saja di rumah. Kiya tidak mau bekerja di sini. Kiya tidak mau menikah di sini.”
“Itu bukan alasan untuk menolak permintaan pamanmu. Kakak-kakakmu masih bisa merawat ayah di sini. Kau tidak perlu khawatir. Dan jangan bersikap kekanakan lagi! Ayah tutup telephonnya. Assalamu’alaikum.”
“Tunggu dulu, Ayah! Ayah! Ayah!”panggil Adzkiya berkali-kali.
Tut! Tut!
Adzkiya meradang. Gadis itu seperti makan buah simalakama. Ia tersandar lemah di dinding kamarnya.
“Haduh! Eottoke? Ayah tega sekali melakukan hal ini padaku. Aku tidak mungkin jadi gembel di sini. Kalaupun pulang, aku juga tetap akan jadi gembel jika tidak menuruti kata-kata ayah. Arghhhh!”Gerutunya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa aku harus minta tolong sama Risma? Ah tidak mungkin. Dia pasti akan tertawa bahagia terpingkal-pingkal di atas penderitaanku.”
“Rasakan kau, Kiya! Kau termakan kata-katamu sendiri. Makanya jangan songong jadi orang. Jangan belagu kalau dibilangin. Sekarang ini akibatnya. Terima saja. Mungkin memang takdirmu seperti itu.”Kira-kira seperti itu cemoohan Risma dalam khayalan Adzkiya.
“Ah, tidak! Aku tidak mungkin minta tolong Risma. Tidak mungkin.”
Adzkiya kembali mengacak-acak rambutnya seperti orang gila.
***
“Namanya Dafi Hamzah. Usianya 28 tahun. Jabatannya, Kepala Bagian Perencanaan. Dia lulusan Fakultas Pertambangan ITB dan program Master di Fakultas IT di Universitas Tokyo. Istrinya meninggal 2 bulan setelah melahirkan Bilal. Sejak saat itu, dia tidak mau menikah lagi. Tapi 10 bulan kemudian, ibunya meninggal dunia. Ibunya mempunyai permintaan terakhir pada Nak Dafi, agar mencari istri dan ibu bagi Bilal. Banyak yang mau menjadi istrinya, tapi mereka tidak mampu menenangkan Bilal seperti yang Nak Kiya lakukan kemarin.”
“Tapi, mungkin saja saat itu Bilal sedang mengantuk. Jadi ketika aku gendong, dia langsung tertidur.”
“Itulah yang membuat kami heran. Karena jika dia mengantuk, selain almarhumah neneknya, Bilal hanya bisa tidur saat digendong ayahnya sendiri. Nak Kiya bisa bayangkan, bagaimana sibuknya Nak Dafi. Dia sudah berkali-kali mengundurkan diri karena hal itu, tapi Dirut Pertamina tetap mempertahankan dia dengan membiarkan Nak Dafi bekerja di rumah.”
“Paman kenal darimana dengan keluarganya?”
“Paman dan ayahnya sama-sama menjadi dosen di UNPAD. Kebetulan rumah paman tidak jauh dari rumah beliau. Kami sering berangkat bersama supaya mengirit bensin. Dan saat ayah dan ibunya meninggal, paman diminta untuk menganggap Nak Dafi sebagai anak paman sendiri,”Ujar Pak Rahmat menambahkan.”Sekarang, bagaimana keputusanmu?”
Adzkiya terdiam dan berpikir.
“Paman, Kiya merasa masih belum bisa menerima nasib Kiya punya suami seorang duda. Kiya merasa ada yang cacat dalam hidup Kiya.”
“Istikharah, Nak. Jangan membuat keputusan dengan egomu sendiri. Selalu libatkan Allah dalam setiap keputusan dan berserah diri sepenuhnya pada Sang Khalik. Insya Allah Nak Kiya akan mendapat yang terbaik dari-Nya.”
Adzkiya mengangguk pelan. Ia memaksa hatinya yang sudah kadung babak belur. Jantungnya seperti ditarik ulur dengan semua penjelasan adik kandung ayahnya itu.
***
Adzkiya tertunduk saat dibiarkan bicara empat mata dengan Dafi di ruang tamu. Pak Rahmat mengatur semua itu agar Adzkiya dapat mengungkapkan segala keinginan hatinya pada Dafi sebelum resmi menjadi istri seorang duda.
Kedua calon pengantin itu duduk berhadapan-hadapan dengan meja tamu sebagai perantara keduanya. Ini kali pertama mereka dipertemukan langsung. Setelah Adzkiya menyetujui perjodohannya.
“Apa yang ingin kausampaikan, katakanlah,”ujar pemuda tampan rupawan dengan senyum menawan itu.
Adzkiya diserang rasa gugup. Lidahnya tiba-tiba kelu. Mulutnya seperti dibungkam lakban hitam. Tubuhnya mendadak kaku.
”Akhhh…godaan syetan dalam diri ini kuat sekali. Kenapa dia begitu memesona mataku? Kenapa dia begitu terlihat berwibawa di depanku? Apalagi wajahnya mirip Won Bin. Aduh, ini tidak bisa dibiarkan!”Bisiknya dalam hati. Sesekali ia melirik pemuda di depannya. Curi-curi pandang saat ada kesempatan dalam kesempitan.
“A..aku, sebenarnya aku tidak menerima perjodohan ini. Tapi aku kasihan melihat Bilal makanya aku setuju. Tapi, aku belum mampu menerima seorang duda menjadi suamiku. Dan aku minta setelah kita menikah nanti, kau jangan pernah menganggapku sebagai istrimu!”
“Maksudmu, aku tidak boleh menyentuhmu sebelum kau mengizinkannya?”
“I, iya…”
“Apa kau mencintai orang lain? Atau ada orang yang menunggumu?”
“Ti, tidak ada.”
“Jika selain menyentuhmu, apa aku boleh melakukan yang lain?”
“Yang lain? Apa maksudmu?”Tanya Adzkiya menyelidiki.
“Apa aku boleh menjadi imam sholatmu atau mengajakmu sholat berjama’ah?”
Adzkiya terpana seketika. Ia merasa terjebak dengan permintaan itu. Tapi ia merasa tidak mungkin menolak hal itu. Lumayan jika sholat berjama’ah pahalanya 27 kali dari sholat sendirian.
“Aku rasa itu tidak masalah.”
“Baiklah. Aku akan menganggapmu sebagai sahabatku, temanku atau apapun yang kau mau. Tidak apa-apa bagiku. Kau mau menjaga Bilal, itu sudah lebih dari cukup,”katanya sambil menyungging senyum. Ia tampak begitu tenang dan tulus menerima keputusan Adzkiya.
Adzkiya jadi salah tingkah. Dunianya seperti dijungkir balikkan dengan senyuman duda keren itu. Tapi ada hal lain yang membuat hatinya dikerubungi rasa curiga.
“Kenapa reaksinya malah senang? Harusnya kecewa atau sedih. Apa mungkin dia masih mencintai istri pertamanya?”Gumam gadis berjilbab lebar itu.”Arghhhh!!! Kenapa aku harus memikirkan hal itu. Apa aku cemburu? Geumane, Adzkiya! Jangan sampai hal itu terjadi!”

Komentar