DILEMA PEREMPUAN KEDUA #2

DILEMA PEREMPUAN KEDUA #2


Usai sholat maghrib, Dafi mengajak Bilal mengaji di musholla dalam rumahnya. Ia meletakkan Bilal di pangkuannya saat membaca Al-qur’an.
“Dinda, mau mengaji bersama juga?”Tanya Dafi dengan suara lembutnya.
“Dinda? Kenapa manggil Dinda?”
“Lho, memangnya tidak boleh? Saya lebih tua satu tahun darimu.”
“Akhhh, panggil yang lain. Geli dengarnya. Kayak drama kolosal!”Ketusnya.
“Ummi….”
“Yagh! Apa-apaan panggil ummi? Panggil Adzkiya saja! Saya mau ngaji di kamar,”kata adzkiya dengan nada kesal sambil melenggang pergi dengan wajah cemberut.
Dafi tersenyum. Ia tak sedikitpun merasa tersinggung dengan sikap Adzkiya yang kolokan.
Lain Dafi lain pula Adzkiya. Di dalam kamar, gadis itu ngedumel ngalor ngidul.
“Modus banget tuh orang! Arghhhh! Menyebalkan!”
***
“Ha ha ha! Paboya!”Ejek Risma dari seberang telephone. Ia tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut mendengar pengakuan mengejutkan dari Adzkiya. Bagaimana tidak, 2 bulan menghilang tanpa kabar. Adzkiya tiba-tiba muncul bagai pocong di siang bolong membawa kisah pahit, asem asin takdir hidupnya.
“Keluargamu hanya bilang kau sedang sibuk. Ternyata memang sibuk mengurus anak orang. Ha ha ha! Kau memang lucu, Kiya. Benar-benar lucu!”
“Aisshh! Lucu nenek moyangmu! Do piceosseo? Kalau saja aku di depanmu sekarang, sudah kugantung kakimu di jembatan Ancol!”
“Lalu, sekarang Bilal di mana?”
“Lagi tidur.”
“Eh, tapi bagaimana denganmu? Kau sudah menikah? Jangan cuma bisa berkoar-koar di kandang aja lu!”
“Ayah ibuku masih belum setuju dengan laki-laki yang sebulan lalu dating ke rumah. Tapi laki-laki itu ngotot mau nikah denganku. Dia mengajakku kawin lari,”ungkapnya sedih.
“Terus, kau setuju?”
“Ya tidak mungkinlah. Aku tidak mau namaku dicoret dari daftar warisan.”
“Waduh! Parah kau, Ris! Nasibmu ternyata lebih tragis.”
“Tapi, suamimu kenapa tidak keberatan dengan keputusanmu untuk pisah kamar?”
“Nah, aku juga sempat curiga, Ris. mungkin dia masih mencintai istri pertamanya.”
“Bukan itu, Kiya pabo! Itu artinya dia punya gadis idaman lain. Kau tidak takut suamimu direbut gadis lain? Bukankah kau bilang dia mirip Won Bin? Eh bentar dulu. Won Bin atau Hyun Bin? Bukankah kau masih tidak bisa membedakan keduanya?”Tanya Risma menakut-nakuti.
“Nan molla, mau Won Bin, mau Bang Bin, Bung Bin, gak urus!”Tanggap Adzkiya uring-uringan.“Ah, itu tidak mungkin. Dia tidak tertarik pada perempuan. Ta..tapi kata-katamu masuk akal juga sih. Akhir-akhir ini dia sering telat pulang,”kata Adzkiya dengan lagak sok curiga.
“Nah, itu dia. Mungkin dia juga jenuh karena kau tidak mau disentuh.”
Adzkiya terdiam. Pikirannya mulai kacau. Konsentrasinya tiba-tiba buyar sampai-sampai ia tidak tahu Risma menutup telephone-nya.
***
“Bilal, Abah pergi kerja dulu ya. Sampaikan salam Abah ka Ambu. Bilang ka Ambu, harus rajin-rajin tersenyum. Biar makin cantik. Makin manis. Karena Ambu adalah bidadari Abah. Assalamu’alaikum.”
Setelah bersalaman dengan Bilal, Dafi naik mobil dan memberikan kiss by kearah Bilal yang tengah digendong Adzkiya.
Sontak Adzkiya melengos dengan wajah merah muda.
“Ih, darimana dia belajar merayu segenit itu?”
Kecurigaan Adzkiya mulai menjadi-jadi setelah melihat perubahan sikap suaminya. Apalagi bila mengingat kata-kata Risma. Hatinya tiba-tiba berubah panas. Seperti bara tengah menyala di dalamnya. Ia segera mengucap istighfar dan membaca Al-qur’an.
***
Tengah malam Adzkiya terbangun. Ia ingat, besok hari kamis. Dengan langkah pelan ia keluar kamar, mengambil makanan di dapur untuk sahur.
Di tengah kesunyian malam, sayup-sayup ia mendengar suara isak tangis. Ia menajamkan pendengarannya. Mencari arah datangnya suara itu. Tanpa sadar ia menyeret kakinya ke arah musholla. Ia mengintai musholla layaknya petugas ronda malam di kampungnya. Matanya terbelalak saat melihat Dafi tengah terisak sambil tertunduk di atas sajadah.
“Apakah aku terlalu serakah jika meminta lebih dari semua itu ya Rabb? Tunjukkanlah dan berikan yang terbaik untukku. Aku ingin menjadi manusia yang bersyukur dan selalu bersabar atas apa yang Engkau gariskan. Ampunilah jika aku telah banyak berbuat kesalahan,”lirih pemuda itu penuh khusyu’.
Adzkiya menutup mulutnya lalu segera berbalik arah menuju kamarnya. Ia menutup pintu rapat-rapat.
“Apakah dia sedang istikharah untuk menikah lagi?”sangkanya dalam hati. Ia menggeleng seraya memejamkan matanya. Pikirannya semakin kusut.” Ya Allah…apakah takdirku begitu buruk?”
“Aku tidak mungkin memarahinya. Ini semua karena salahku sendiri. Mungkinkah selama ini dia begitu tersiksa dengan sikapku selama ini sampai dia menangis seperti itu mengadu pada Allah?”
Tiba-tiba saja Adzkiya merasa bersalah. Lukisan wajahnya dipenuhi guratan penyesalan. Seribu kata caci-maki, hinaan, cercaan dan umpatan menguburnya dalam sebuah kubangan rasa berdosa. Ia mencoba lari sekuat tenaga. Namun, tekanan itu terasa semakin membuatnya tersiksa. Dadanya terasa sakit. Sesak.
“Kenapa sekarang aku mencemaskan hal itu? Tidak! Adzkiya, jangan hancurkan akal sehatmu gara-gara hal itu. Pokoknya, jika dia mau poligami. Dia harus menceraikan aku terlebih dulu! Titik!”
***
“Aku tahu, sikapku selama ini salah. Dan mungkin juga aku sudah melakukan dosa besar. Aku minta maaf, jika selama ini kau merasa tidak nyaman tinggal serumah dengan wanita sepertiku. Tapi jika kau mau menikah lagi. Pulangkan saja aku ke rumah orang tuaku.”
Dafi tertegun mendengar penjelasan Adzkiya. Namun, ia berusaha mencerna apa yang dimaksud gadis bergamis biru langit itu. Tak lama kemudian ia mengulum senyuman mautnya. Ia menatap Adzkiya yang tengah tertunduk di depannya. Seperti saat mereka dipertemukan pertama kali ketika ta’aruf dulu.
“Kau orang baik, pastinya banyak gadis yang ingin menjadi istrimu yang jauh lebih baik dariku. Tapi aku masih saja merasa belum bisa menerima takdirku,”Adzkiya menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya.”Aku seharusnya tidak melampiaskan kemarahanku padamu atas takdir hidup yang aku jalani. Tapi aku tetap tidak tahu bagaimana bersikap seperti yang istri-istri lain lakukan.”
“Neng jangan memikirkan hal itu. Apa yang Neng dengar tadi malam, itu tidak seperti yang Neng pikirkan. Tidak akan ada perceraian ataupun poligami. Bilal membutuhkan Neng.”
“Tapi aku tidak bisa mencintaimu. Ini memang seperti film drama. Tapi ini adalah kenyataan yang aku rasakan. Entahlah. Terkadang aku merasa cemburu dan takut jika kau tergoda gadis-gadis cantik rekan kerjamu di kantor. Tapi aku pikir, itu bukan cinta. Meskipun itu cinta, aku juga tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.”
“Muhun. Terima kasih Neng sudah jujur mengatakan hal itu. Saya juga dulu tidak tahu apa itu cinta. Bahkan saya tidak pernah mencintai istri saya sendiri dan hal itulah yang membuat saya tidak mau menikah setelah dia meninggal. Rasa bersalah yang selalu datang setiap saat tanpa diundang.”
Adzkiya terkejut mendengar pengakuan Dafi. Ada segumpal keheranan menaungi pikirannya. Tapi saat ia menanyakan hal itu, Dafi mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya sholat Ashar.
***
Adzkiya memandang Bilal yang tengah asyik bermain bersama perawatnya. Ia sering mengintip Bilal dari dapur saat bocah itu bermain di taman. Bocah tampan itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Adzkiya selalu tersenyum melihat perkembangan Bilal. Apalagi sekarang Bilal sudah pandai berjalan tanpa di tuntun.
Terkadang Adzkiya merasa heran, setiap kali ia memerhatikan anak tirinya itu. Kala hatinya menggerutu dalam kepedihan, kekecewaan dan kesedihan menjalani takdirnya, dengan melihat bayi mungil itu tersenyum, hati gersangnya serasa disiram hujan. Damai. Sejuk.
“Apakah anak itu memang terlahir untuk mempertemukan aku dengan Aa’ Dafi?”Pikirnya.”Aa’ Dafi? Aa’? Aigoo! Kenapa panggilan itu jadi kedengaran lucu dan menggelikan? Oh, God! Sadar Kiya! Naega piceosseo? Weide?”
***
“Kita mau kemana?”
“Ke Lembang. Kau belum pernah ke Lembang, kan?”
Adzkiya hanya menjawab Dafi dengan menyungging senyum. Gadis itu membelai kepala Bilal yang sudah mulai mengantuk.
“Kenapa tersenyum?”Tanya Dafi.
“Paman menceritakannya padamu?”Adzkiya balik bertanya dengan wajah malu-malu.
Kali ini Dafi balik tersenyum. Ia melirik Adzkiya dengan ekor matanya sambil menyetir. Ia sengaja tidak melibatkan sopir karena ingin menikmati liburan bertiga saja di Lembang.
“Memangnya kenapa, sampai Neng bisa tersesat? Mending tersesat di hati abdi wae,”ujar Dafi menggoda.
“Apaan sih?”
“Ceritakan makanya.”
“Saat itu aku tidak tahu jalur Lembang. Aku kira Dago itu jalur Lembang. Nyasar ke Jl. Ganesha akhirnya. Ya aku sholat Zuhur dulu di Masjid Salman. Pas mau lanjut nyari angkot ke Darul Qur’an, tahu-tahunya dompet sudah tidak ada di tas. Memangnya Paman bilang apa?”
“Paman cuma bilang, Neng punya jiwa petualang tinggi. Pemberani dan selalu ingin tahu. Berkali-kali tersesat, tapi tidak pernah kapok mencoba lagi.”
Dafi tertawa kecil. Memperlihatkan giginya yang rapi. Ia terlihat begitu bahagia karena sikap Adzkiya sudah mulai mencair sejak peristiwa malam itu.
***
Pagi itu, Dafi tiba-tiba meminta Adzkiya membelikannya lalapan ayam dan tempe penyet di warung dekat Bundaran Cibiru. Tak biasanya ia meminta Adzkiya melakukan hal itu padahal ada pembantu di rumah. Ia bahkan meminta Adzkiya pergi pakai angkutan umum.
“Seharusnya dia beli sendiri kalau ingin makan. Ngapain nyuruh saya yang beli? Tapi memang ini pekerjaan seorang istri.”
Meski menggerutu, Adzkiya tetap pergi. Ia berjalan 100 meter dari rumah hingga menemukan angkot menuju Bundaran Cibiru. Riung, Dago, Caringin, Cicaheum, Cihampelas, Antapani, Kiaracondong, Buah Batu, Cibiru, Metro dan lain sebagainya. Kata-kata itu melekat erat di kepala Adzkiya saat harus kembali ke kawasan Jl. Tata Surya, di Marga Cinta.
“Mang, Lalapan ayam dan tempe penyetnya 5 bungkus ya?”
“Antosin heula nyak, Neng. ”
Adzkiya mengangguk ramah kemudian duduk di bangku yang tertata rapi di warung favorit warga Cibiru itu.
Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya dengan rambut penuh uban datang menghampirinya. Bapak itu seperti mengenal sosok Adzkiya dan mencoba memastikan dengan melihatnya lebih dekat.
Adzkiya heran melihat sikap pria berpakaian layaknya seorang bos perusahaan besar.
“Neng?”Tegurnya ragu.
“I, iya..”Jawab Adzkiya gugup.
“Bukankah Neng yang dulu pernah tersesat di depan kampus ITB itu?”
Adzkiya mengangguk pelan.
“Neng masih ingat Bapak? Yang jualan Koran bekas di dekat Masjid Salman.”
“Oh, iya. Bapak!”Teriak Adzkiya spontan.”Alhamdulillah. Iya, saya ingat sekarang, Pak. Ya ampun, Pak. Saya sudah lama cari Bapak. Ternyata bertemu di sini. Apa kabar, Pak.”
“Alhamdulillah, Neng. Bapak teh masih sehat. Neng, kumaha damang?”
“Alhamdulillah baik, Pak. Saya ingin mengganti uang Bapak yang dulu saya pinjam.”
“Lho, uang eta mah bukan dari bapak. Tapi dari orang lain. Mahasiswa di ditu mereun,”sanggah si Bapak.
Adzkiya melongo sambil mencerna perkataan laki-laki itu. Ia terperangah mendengar penjelasan orang yang dianggap sebagai malaikat penolong itu. Terang saja ia merasa sangat berhutang budi pada orang itu karena jika ia tidak menerima uang itu, mungkin ia tidak akan bisa pulang ke rumah. Belum lagi banyaknya geng motor yang sering merampok, memperkosa bahkan tak segan membunuh para korbannya yang sedang sendirian di jalan.
“Begini, Neng. Saat neng minta tolong sama bapak. Bapak bilang tidak ada uang karena belum ada jualan bapak yang laku. Nah, di dekat sana ada pemuda yang beli Koran bekas. Bapak bilang masalah Neng sama dia. Nah, bapak di berikan uang 100 ribu. 50 ribu buang Neng untuk ongkos taksi dan 50 ribu buat bapak untuk modal jualan Koran baru. Begitu katanya,”ujar si Bapak menerangkan pakai bahasa Indonesia. Ia ingat bahwa Adzkiya bukan orang Sunda.
Adzkiya hanya terpaku mendengar penjelasan bapak itu. Sekarang, isi kepalanya penuh dengan sosok pemuda itu. Ia merasa harus menemukan orang itu.
“Bapak juga ingin bertemu dengan pemuda itu. Bapak merasa berhutang budi padanya. Jika tidak ada dia, mungkin keluarga Bapak tidak akan bisa membangun usaha ini.”
“Lho, jadi warung ini milik Bapak?”
Bapak itu mengangguk.
“Alhamdulillah. Subhanallah ya Pak.”
“Awalnya, bapak beli Koran baru dan jualan keliling dari rumah ke rumah. Saat itu juga sedang musim pengumuman Mahasiswa Baru. Untung jualan Koran, bapak pakai beli gerobak sambil berjualan lalapan dan tempe penyet. Alhamdulillah sekarang warung bapak, sudah ada 10 tempat. Di Gazibu, BEC, BSM, Ciwalk, Dago, ITB, Cibiru, Metro Mall, Cibaduyut sama di Lembang. Makanya, bapak selalu berdoa, jika nanti bertemu dengan pemuda itu, bapak akan kirimkan lalapan tiap hari ke rumahnya,”ujarnya sambil terkekeh. Matanya berkaca-kaca mengingat semuan itu.
“Pemuda itu begitu tulus menolong orang lain. Dulu, bapak menyuruhnya memberikan uang itu langsung. Tapi dia bilang, “jika nanti ada yang melihat saya memberikan uang pada seorang gadis, takutnya timbul fitnah”. Itu yang membuat bapak mau memberikan uang itu pada Neng.”
Angan Adzkiya melambung tinggi mengingat semua peristiwa di depan Masjid Salman itu.
“Siapa pemuda itu ya Rabb? Berikan aku kesempatan untuk mengucapkan rasa terima kasihku padanya,”pintanya dalam hati.
“Neng, ini pesanannya sudah jadi.”
Suara pemilik warung membuyarkan lamunan Adzkiya. Ia segera menyodorkan uang 300 ribu ke kasir. Namun, uang itu dikembalikan lagi.
“Neng tidak usah bayar. Gratis! Anggap saja ini hadiah silaturrahim kita.”
“Terima kasih banyak, Pak.”
Adzkiya tak kuasa menahan air matanya lebih lama lagi. Hatinya mengharu biru menatap wajah Pak Asep. Berkali-kali ia mengucap syukur dalam hati. Tasbih dan istighfar memenuhi dinding hatinya. Setelah bertukar nomor HP, Adzkiya meminta diri untuk pulang ke rumah.

Komentar